Penggunaan Rhodamine B pada Saus Sambal Jajanan
DOI:
https://doi.org/10.56260/sciena.v1i6.79Keywords:
Rhodamine B, Saus Sambal JajananAbstract
Kebiasaan mengkonsumsi jajanan sangat populer di kalangan masyarakat, khususnya golongan usia menengah ke bawah. Menurut United State Department of Agriculture (USDA), standar makanan dan jajanan adalah makanan yang sehat dengan kandungan vitamin, kalsium, potasium, protein, sayuran, karbohidrat dan makanan bersera. Pengetahuan, sikap, dan praktek seorang produsen memiliki pengaruh yang besar terhadap citra dan kualitas dagangan yang dibuatnya. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah faktor perilaku. Penjual makanan di pinggiran jalan sudah biasa menggunakan bahan tambahan makanan termasuk zat warna yang tidak diizinkan, ini disebabkan karena bahan itu mudah diperoleh dalam kemasan kecil di toko dan pasar dengan harga murah. Notoatmodjo seorang ahli psikologi pendidikan, membedakan adanya tiga ranah perilaku, yaitu kognitif (cognitive), afektif (affective), dan psikomotor (psychomotor). Makanan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang terpenting dan juga merupakan faktor yang sangat esensial bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia. Sangat mudah larut dalam etanol, sukar larut dalam asam encer dan dalam larutan alkali, larut dalam asam kuat akan membentuk senyawa kompleks berwarna merah muda yang larut dalam isopropil eter. Zat pewarna Rhodamine B mempunyai banyak sinonim, antara lain D dan C Red no 19, Food Red 15, ADC Rhodamine B, Aizan Rhodamine dan briliant Pink B. Menurut WHO, Rhodamine B berbahaya bagi kesehatan manusia karena sifat kimia dan kandungan logam beratnya. Rhodamine B mengandung senyawa klorin (Cl). Rhodamine B lebih memiliki pengaruh besar terhadap organ pencernaan, namun berikut adalah beberapa zat yang bila terkontaminasi dengan Rhodamine B maka akan memiliki pengaruh terhadap kesehatan gigi dan mulut bila dikonsumsi berlebihan dalam jangka waktu yang lama. Berdasarkan hasil analisis komprehensif terhadap pengaruh kandungan Rhodamine B yang terdapat dalam saus sambal jajanan diperoleh hasil negatif.
References
. Lestari, I., Indra Pertiwi, E. D., & Christyaningsih, J. (2016). Survey on the use of formalin, rhodamine B and auramine in food samples procured from state elementary schools of Surabaya city. Research Journal of Pharmaceutical, Biological and Chemical Sciences, 7(1), 581–585.
. Eka, D. (2010). Pemeriksaan Pemakaian Zat Warna Rhodamin B pada Kerupuk Merah di Pasaran dengan Metoda Analisa Kualitatif. Fakultas Kedokteran Gigi.
. Suci, E. S. T. (2009). Gambaran Perilaku Jajanan Murid Sekolah Dasar. Psikobuana, 1(1), 29–38.
. Subandi. (1999). Penelitian Kadar Arsen dan Timbal Dalam Pewarna Rhodamin B dan Auramin Secara Spektrofotometri. Suatu Penelitian Pendahuluan. 28 (1).
. Anggraini, D., & Kumala, O. (2022). Diare Pada Anak. Scientific Journal, 1(4), 309-317.
. Gambaran Zat Pewarna Merah pada Saus Cabai yang Terdapat pada Jajanan yang Dijual di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Padang Utara. Jurnal Kesehatan Andalas, 3(3), 297– 303. https://doi.org/10.25077/jka.v3i3.108
. Anggraini, D., & Putra, I. A. (2022). Imunopatogenesis Karsinoma Hepatoselular. Scientific Journal, 1(4), 318-324
. Yamlean, P. V. Y. (2011). Identification and Determination Level of Rhodamin B on Street Food Pinc Cake That Circulation To Manado City. Jurnal Ilmiah Sains, 11(2), 7
. Putra, I. R., Asterina, A., & Isrona, L. (2014). Gambaran Zat Pewarna Merah pada Saus Cabai yang Terdapat pada Jajanan yang Dijual di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Padang Utara. Jurnal Kesehatan Andalas, 3(3), 297– 303. https://doi.org/10.25077/jka.v3i3.108
. R.Islamiyati. (2014). Nilai Nutrisi Campuran Feses Sapi Dan Beberapa Level Ampas Kelapa Yang Difermentasi Dengan Em4. Buletin Nutrisi Dan Makanan Ternak, 10, 41–46.
. Silalahi. (2012). Analisis Rhodamin B pada Jajanan Anak Sekolah Dasar di Kabupaten Labuhan Batu Selatan Sumatera Utara. Journal Of The Indonesian Medical Association.
. Anggraini, D (2019). Laboratory Examination in Hepatocelullar Carcinoma. Health and Medical Journal, 1(2), 50-54
. Widowati, A. (2012). Optimalisasi Potensi Lokal Sekolah Dalam Pembelajaran Biologi Berbasis Kontruktivisme. Majalah Ilmiah Pembelajaran, 8(2), 1–12. http://blue-ap.org
. Winarno, F. G. &, & T. S., R. (1994). Bahan Tambahan Untuk Makanan dan Kontaminan. Pustaka Sinar Harapan.
. Yamlean, P. V. Y. (2011). Identification and Determination Level of Rhodamin B on Street Food Pinc Cake That Circulation To Manado City. Jurnal Ilmiah Sains, 11(2), 7.
. Kwon, S. T., Cheong, C. S., & Sagong, H. (2006). Rb-Sr isotopic study of the Hwacheon granite in northern Gyeonggi massif, Korea: A ease of spurious Rb-Sr whole rock age. Geosciences Journal, 10(2), 137–143. https://doi.org/10.1007/BF02910358
. Lestari, I., Indra Pertiwi, E. D., & Christyaningsih, J. (2016). Survey on the use of formalin, rhodamine B and auramine in food samples procured from state elementary schools of Surabaya city. Research Journal of Pharmaceutical, Biological and Chemical Sciences, 7(1), 581–585.
. Notoatmodjo. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2022 Eka Desnita

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
