Faktor Resiko Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-60 Bulan di Kecamatan Koto Balingka Pasaman Barat Tahun 2019
DOI:
https://doi.org/10.56260/sciena.v1i2.28Keywords:
Balita, faktor resiko, stuntingAbstract
Latar belakang: Stunting adalah kondisi dimana balita gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis sehingga balita lebih pendek untuk usianya. Menurut Kemenkes tahun 2018 stunting adalah balita dengan nilai z-scorenya kurang dari -2SD / standar deviasi (stunted) dan kurang dari –3SD (severely stunted), banyak faktor yang menyebabkan kejadian stunting, yaitu karakteristik anak berupa jenis kelamin laki-laki, berat badan lahir rendah, infeksi TB, asupan energi rendah, pola pengasuhan tidak ASI ekslusif, pelayanan kesehatan imunisasi yang tidak lengkap, dan karakteristik keluarga berupa pekerjaan orang tua, pendidikan orang tua, status ekonomi keluarga dan sanitasi yang buruk, jika faktor-faktor tersebut tidak di perhatikan maka angka kejadian stunting akan terus meningkat. Tujuan: Untuk mengetahui faktor resiko kejadian stunting pada balita di kecamatan Koto Balingka Kabupaten Pasaman Barat tahun 2019. Metode: Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli-Januari di wilayah Kecamatan Koto Balingka. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kategorik dengan pendekatan cross sectional, populasi nya adalah balita yang di diagnosisi stunting dengan jumlah 100 balita, metode pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling, analisa data dengan sistem komputerisasi spss versi 25. Hasil: Jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki 68 balita (68,0%), balita yang memiliki imunisasi lengkap 96 balita (96,0%), banyak balita yang tidak mengalami BBLR yaitu 93 balita (93,0%), lebih banyak balita yang tidak memiliki riwayat TB yaitu 97 balita (97,0%), pekerjaan ayah balita terbanyak adalah pekerjaan non formal (96,0%), lebih dari setengah rumah balita yang tidak mempunyai sumber air bersih yaitu 61 rumah (61,0%), dan banyak rumah balita tidak memiliki jamban yaitu 82 rumah (82,0%). Kesimpulan: balita stunting di wilayah koto balingka berdasarkan jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki, pekerjaan orangtua yang masih dibawah UMR, serta masih banyak rumah anak balita stunting yang tidak memiliki sumber air bersih dan jamban.
References
WHO, UNICEF & Group, W. B. (2018). Levels and Trends in Child Malnuutrition. 1–16.
Kementerian Kesehatan RI. (2019). Laporan Pelaksanaan Integrasi Susenas Maret 2019 dan SSGBI Tahun 2019. 69.
Saputri, R. A., & Tumangger, J. (2019). Hulu-Hilir Penanggulangan Stunting Di Indonesia. Journal of Political Issues, 1(1), 1–9.
United Nations Children’s Fund (UNICEF), World Health Organization, International Bank for Reconstruction and Development/The World Bank. Levels and Trends in Child Malnutrition: Key Fndings of the 2019 Edition of the Joint Child Malnutrition Estimates. Geneva. 2019.
Pemberian, H., Eksklusif, A. S. I., & Kejadian, D. (2020). Hubungan Pemberian Asi Eksklusif dengan kejadian Stunting Pada Anak usia 6-59 Bulan Di Kota Padang. Jurnal Kesehatan Medika Saintika.
Anggraini, Y., & Rusdy, H. N. (2019). Faktor Yang Berhubungan Dengan Stunting Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Air Bangis Kabupaten Pasaman Barat. Dinamika Kesehatan Jurnal Kebidanan Dan Keperawatan, 10(2), 902–910.
UNICEF. (2015). UNICEF's Approach to Scaling Nutrition for Mother and Their Child. New York: Programme Division
Kemenkes RI. (2017). Buku Saku Pemantauan Status Gizi. Buku Saku, 1–150.
Picauly, I dan Toy SM. (2013). Analisis Determinan dan Pengaruh Stunting terhadap Prestasi Belajar Anak Sekolah di Kupang dan Sumba Timur NTT. Jurnal Gizi dan Pangan, 8(1), 55-62
Larasati, N. N. (2017). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 25-59 bulan di Posyandu Wilayah Puskesmas Wonosari II Tahun 2017. Skripsi, 1–104.
Christin Angelina , Agung Aji Perdana , Humairoh. (2018) FAKTOR KEJADIAN STUNTING BALITA BERUSIA 6-23 BULAN DI PROVINSI LAMPUNG. Jurnal Dunia Kesmas Volume 7. Nomor 3. Juli 2018
Soetjiningsih dan IG. N. G. Ranuh. 2014. Tumbuh Kembang Anak. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Bagcchi, S. (2015). India ’ s poor sanitation and hygiene practices are linked to stunting in children, study finds. 1564(March), 5180.
https://doi.org/10.1136/bmj.h1564
Rahayu, P. P., & Casnuri. (2020). Perbedaan Risiko Stunting Berdasarkan Jenis Kelamin. Seminar Nasional UNRIYO, 135–139.
Larasati, N. N. (2017). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 25-59 bulan di Posyandu Wilayah Puskesmas Wonosari II Tahun 2017. Skripsi, 1–104.
Bentian, Mayulu, N., & Rattu, A. J. M. (2015). Faktor Resiko Terjadinya Stunting pada Anak TK di Wilayah Kerja Puskesmas Siloam Tamako Kabupaten Sangihe Propinsi Sulawesi Utara. Jikmu, 5(1), 1–7.
Fajariyah, R. N., & Hidajah, A. C. (2020). Hubungan Kejadian Stunting dengan Status Imunisasi dan Tinggi Ibu pada Anak Usia 2-5 Tahun di Indonesia. Jurnal Berkala Epidemiologi. 8 (1) : 89-96
Kasim, E., Malonda, N., & Amisi, M. (2019). Hubungan antara Riwayat Pemberian Imunisasi dan Penyakit Infeksi dengan Status Gizi padaAnak Usia 24-59 Bulan di KecamatanRatahan Kabupaten Minahasa Tenggara. Jurnal Bios Logos. 9 (1) : 34-43.
Sumilat MF, Malonda NSH, Punuh MI, Kesehatan F, Universitas M, Ratulangi S. Hubungan Antara Status Imunisasi Dan Pemberian Asi Eksklusif Dengan Status Gizi Balita Usia 24-59 Bulan Di Desa Tateli Tiga Kecamatan Mandolang Kabupaten Minahasa. Kesmas. 2019;8(6):326–34.
Swathma, D., Lestari, H., & Teguh, R. (2016). Riwayat Imunisasi Dasar Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita Usia 12-36 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Kandai Kota Kendari Risk Factors Analysis of Low Birth Weight, Body Length At Birth and Basic Immunization History Toward Stunting of Children Aged. JIMKesmas, 1–10.
Kesehatan Kementerian. (2020). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. In Kementerian Kesehatan RI. https://www.kemkes.go.id/
Soetjiningsih. Seri gizi klinik ASI petunjuk untuk tenaga kesehatan. Jakarta: EGC; 2014. Bab 2: 20-21
Tanjung, I. C. D., Rohmawati, L., & Sofyani, S. (2017). Complete basic immunization coverage in children and the factors influencing it. Sari Pediatri, 19(2), 86. https://dx.doi.org/10.14238/sp19.2.2017.86-90
Aridiyah, FO. 2015. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Stunting Pada Balita di Wilayah Pedesaan dan Perkotaan. E-journal Pustaka Kesehatan Vol. 3 (1) Januari 2015
Sari, E. M. (2017). Hubungan Riwayat BBLR Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 7-12 Bulan Di Desa Selomartani Wilayah Kerja Puskesmas Kalasan. Universitas ’Aisyiyah Yogyakarta, 7. file:///H:/Jurnal SKRIPSI/Sarii.pdf
Nadila, N. N. (2021). Hubungan Status Gizi Stunting Pada Balita Dengan Kejadian Tuberkulosis. Jurnal Medika Hutama, 02(02), 475–479.
Ramli, Kingsley, E.A., Inder, K.I., Bowe, S.J., Jacobs, J., Dibley, M.J. 2009. Prevalence and Risk Factors for Stunting and Severe Stunting Among Underfives in North Maluku Province of Indonesia. BMC Pediatrics.
Bayar, S. (2018). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Upt Puskesmas Klecorejo Kabupaten Madiun Tahun 2018. STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun. Madiun
Novianti, Desi., Suwarni, Nani, Irma., Lusi, N. (2016). Kondisi Sosial Keluarga Petani Penggarap Desa Rawi Penengahan Lampung Selatan Tahun 2016. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.
Desy Ria Simanjuntak, V. L. S. (2018). Hubungan Ketersediaan Air Bersih, Sanitasi Lingkungan, Dan Perilaku Higiene Dengan Balita Stunting Di Desa Cimarga Kabupaten Sumedang Tahun 2018. 12. http://repository.uki.ac.id/681/
Zarkasyi, R., Nurlinda, N., Sari, R. W., & Anggraeny, R. (2021). Faktor Risiko Lingkungan yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Cangadi: MPPKI (Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia): The Indonesian Journal of Health Promotion, 4(3), 377–382.
Maharani, Irianto, S. E. Maritasari, D. Y. (2022). Lingkungan Sebagai Faktor Resiko Kejadian Stunting pada Balita. Journal Ilmiah Permas : jurnal ilmiah Stikes Kendal.12(1)
Danaei G, Andrews KG, Sudfeld CR, Fink G, McCoy DC, Peet E, et al. Risk factors for childhood stunting in 137 developing countries: A comparative risk assessmentanalysis at global, regional, and country levels. PLoS Med. 2016;13(11):1– 18.
Chayatin, Nurul. 2009. Ilmu Kesehatan Masyarakat : Teori dan Aplikasi. Salemba Medika. Jakarta.
Chakravarty, I., Bhattacharya, A., & Das, S. K. (2017). Water , sanitation and hygiene : the unfinished agenda in the World Health Organization South-East Asia Region. WHO South-East Asia. Journal of Public Health. 22–26
Ahmed N, Barnett I, Longhurst R. Determinants of child undernutrition in Bangladesh: Literature review. Washington DC; 2015.
Owino, V., Ahmed, T., Freemark, M., & Kelly, P. (2016). Environmental Enteric Dysfunction and Growth Failure / Stunting in Global Child Health. Pediatrics 138(6):e2016064. https://doi.org/10.1542/peds.2016-0641
Brown, J., Cairncross, S., & Ensink, J. H. J. (2013). Water, Sanitation, Hygiene And Enteric Infections In Children. Archives of Disease in Childhood, 98(8), 629–634. https://doi.org/10.1136/archdischild-2011-301528
Fikru, M., & Doorslaer, E. Van. (2019). Population Health Explaining the fall of socioeconomic inequality in childhood stunting in Indonesia. SSM - Population Health, 9, 100469. https://doi.org/10.1016/j.ssmph.2019.100469
Dodos, J., Mattern, B., Lapegue, J., Altmann, M., & Aissa, M. A. I. T. (2017). Relationship Between Water, Sanitation, Hygiene , And Nutrition.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka Cipta
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2023 Prima Adelin, Wamer Sintia, Fionaliza

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
