Analisis Jarak Tempuh dan Estimasi Waktu Transportasi Terhadap Penundaan Operasi pada Kasus Fraktur Femur Emergensi
.
DOI:
https://doi.org/10.56260/sciena.v5i1.298Keywords:
fraktur femur, penundaan operasi, jarak tempuh, waktu transportasi, durasi IGD–operasiAbstract
Pendahuluan: Fraktur femur merupakan kegawatdaruratan ortopedi yang memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi sistemik seperti tromboemboli vena dan pneumonia. Dalam sistem rujukan di Indonesia, pasien sering datang dari wilayah terpencil, sehingga jarak tempuh dan estimasi waktu transportasi dianggap sebagai faktor potensial yang menunda operasi.Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara jarak tempuh dan estimasi waktu transportasi terhadap durasi antara masuk IGD hingga pelaksanaan operasi sebagai proksi penundaan operasi pada fraktur femur emergensi. Metode: Studi observasional analitik dengan pendekatan potong lintang dilakukan terhadap pasien fraktur femur emergensi di sebuah rumah sakit rujukan provinsi Sumatera Barat periode Januari 2024–Juni 2025. Data dikumpulkan dari rekam medis elektronik dan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman serta regresi linier ganda.. Hasil: Dari 98 pasien, hanya 31 pasien (31,6%) yang memiliki data lengkap. Rata-rata jarak tempuh adalah 117,8 ± 113,2 kilometer dan estimasi waktu tempuh 3,5 ± 2,4 jam. Median durasi IGD–operasi adalah 9,8 jam (IQR: 3,0–29,0 jam). Tidak terdapat korelasi signifikan antara jarak tempuh (r = 0,21; p = 0,16) maupun estimasi waktu tempuh (r = 0,18; p = 0,22) dengan durasi IGD–operasi. Model regresi linier ganda menunjukkan R² = 0,046 (p = 0,20), tidak bermakna secara statistik. Kesimpulan: Jarak tempuh dan estimasi waktu transportasi tidak secara signifikan memengaruhi penundaan operasi fraktur femur emergensi. Faktor internal rumah sakit seperti ketersediaan ruang operasi dan sistem triase kemungkinan lebih dominan.
References
. Haque, M., Chakravarty, K., Chakraborty, S., Khan, N. I., & Hossain, M. A. (2021). Timing of surgery for hip fractures: A systematic review and meta-analysis. Injury, 52(3), 409–417. https://doi.org/10.1016/j.injury.2020.11.045
. Simunović, N., Devereaux, P. J., Sprague, S., Guyatt, G. H., Schemitsch, E. H., & Bhandari, M. (2010). Effect of early surgery after hip fracture on mortality and complications: Systematic review and meta-analysis. Canadian Medical Association Journal, 182(15), 1609–1616. https://doi.org/10.1503/cmaj.092220
. Harris, A. H. S., Morshed, S., & Bhandari, M. (2010). Early versus delayed operative fixation of hip fractures: A systematic review. Journal of Orthopaedic Trauma, 24(6), 370–376. https://doi.org/10.1097/BOT.0b013e3181d5d5d2
. Siregar, G. A., Kurniawan, I. D., & Wibisono, A. (2021). Analisis sistem rujukan trauma di Indonesia: Tantangan dan solusi. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, 24(2), 88–95.
. Prasetyo, A., & Iskandar, D. (2023). Faktor penentu waktu tunggu operasi fraktur femur di rumah sakit pendidikan. Indonesian Journal of Orthopaedics, 7(1), 45–52.
. Wibisono, A., Hidayat, B., & Suryadi, R. (2022). Pengaruh alur IGD terhadap outcome pasien trauma mayor. Media Kesehatan, 15(3), 210–217.
. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman pelayanan trauma terpadu. Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Ardian Riza, Noverial, Muhammad Pramana Khalilul Harmi, Mutia Sari

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
